Wednesday, January 23, 2013

MOTIVASI DALAM ORGANISASI KEPEMUDAAN GEREJA ST. ANDREAS



Tugas Mata Kuliah : Komunikasi Organisasi
Maria Natashia
11140110188
Fakultas Ilmu Komunikasi 
Jurusan Public Relation
Kelas  C1
Dosen : Dra. Lidia Evelina, M.M.
Universitas Multimedia Nusantara  



MAKALAH KOMUNIKASI ORGANISASI
MOTIVASI DALAM ORGANISASI KEPEMUDAAN GEREJA ST. ANDREAS


BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang Masalah
Dewasa ini begitu banyak organisasi yang berkembang pesat di masyarakat, baik organisasi yang bertujuan mencari keuntungan maupun organisasi sosial yang anggotanya bekerja secara sukarela. Namun demikian, tidak semua organisasi tersebut mampu bertahan dan berkembang dengan baik. Hal ini terutama terjadi pada organisasi sosial yang ikatan kerjanya terkesan sukarela, sehingga cenderung sulit untuk mendapatkan komitmen dari para anggotanya karena tidak bisa dipungkiri, setiap orang di zaman sekarang sudah memiliki kepentingannya masing-masing yang berbeda-beda.
Organisasi bisa berjalan dengan baik salah satunya ialah karena adanya motivasi dari para anggotanya untuk mencapai suatu tujuan. Entah itu tujuan pribadi maupun tujuan organisasi yang mendorong komitmen seseorang dalam menjalankan tugasnya di dalam suatu organisasi. Peranan motivasi ini merupakan hal yang penting bagi kehidupan sehari-hari. Motivasi menjadi hal yang sangat penting karena motivasilah yang menyebabkan, dan mendukung perilaku seseorang, sehingga seseorang tersebut mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal (Hasibuan 2007). Tanpa motivasi, seseorang itu bisa saja tidak akan pernah melakukan hal apapun.
Oleh karena itu, di dalam sebuah organisasi sangat diperlukan adanya motivasi. Sehebat apapun pimpinan dari sebuah organisasi, sebaik apapun rencana yang sudah disusunnya, apabila tidak ada motivasi yang kurang kuat dari para anggotanya, rencana yang telah disusun pun bisa jadi berantakan atau bahkan bisa tidak terlaksana sama sekali.
Pada umumnya, faktor-faktor seperti gaji, promosi, kontrak, keamanan posisi, lingkungan kerja, juga kondisi kerja dapat memotivasi seorang anggota organisasi. Semua faktor-faktor yang telah disebutkan jelas bisa ditemukan dalam organisasi yang bertujuan mencari keuntungan seperti sebuah perusahaan. Namun demikian, tidak semua faktor tersebut cocok untuk memotivasi para anggota organisasi sosial seperti beberapa organisasi kepemudaan di Gereja Santo Andreas Green Garden. Beberapa organisasi tersebut ialah Organisasi Orang Muda Katolik, Organisasi Cantamus Dei serta Organisasi Orang Muda Wilayah.
Organisasi-organisasi ini telah berjalan kurang lebih selama dua puluh tahun mendukung perjalanan Gereja Santo Andreas khususnya dibidang pembinaan dan pendampingan umat muda Katolik. Tujuan organisasi kepemudaan di Gereja Santo Andreas ialah agar kaum muda katolik menjadi peka, kritis dan tanggap dalam partisipasi aktif membangun gereja dan masyarakat (Seksi Kepemudaan, 2010).
Tugas-tugas  dari organisasi kepemudaan ini ialah kurang lebih sebagai berikut.
1.    Membuat program kerja yang sesuai dengan kebutuhan orang muda Gereja
2.    Menghimpun dan mengembangkan kreatifitas kaum muda Katolik yang ada di Paroki Santo Andreas
3.    Menggerakan, mengkoordinir, membina dan mendampingi orang muda dalam mengisi aktivitas karya pelayanan dan pengembangan Gereja
Dalam organisasi kepemudaan ini juga terdapat birokrasi yang jelas dan tegas. Dari semua yang telah disebutkan sebelumnya, jelas dibutuhkan komitmen bagi setiap anggotanya agar organisasi tersebut dapat berjalan secara efektif. Sementara tak bisa dipungkiri kehidupan anak muda di zaman sekarang memiliki begitu banyak kepentingan yang berbeda-beda satu sama lain. Untuk itu, perlu adanya motivasi yang baik untuk membangkitkan komitmen para anggotanya sehingga organisasi dapat berjalan efektif.
 Sehingga demikian, hal-hal apa saja yang bisa memotivasi para anggota organisasi sosial dan bagaimana para pemimpin organisasi memotivasi para anggotanya agar dapat bekerja secara efektif? Hal inilah yang menjadikan penulis tertarik untuk meneliti tentang motivasi di dalam sebuah organisasi sosial keagamaan.

1.2   Identifikasi Masalah
a)   Perlu adanya motivasi untuk meningkatkan komitmen kerja dalam organisasi kepemudaan di Gereja Santo Andreas karena organisasi sosial sifatnya tidak mengikat.
b)    Pemimpin perlu memotivasi anggotanya agar organisasi kepemudaan di Gereja Santo Andreas berjalan efektif.

1.3   Rumusah Masalah
a)    Apa yang mampu menjadi motivasi untuk meningkatkan komitmen kerja bagi anggota organisasi kepemudaan di Gereja Santo Andreas?
b)    Bagaimana seorang pemimpin organisasi memotivasi anggotanya agar organisasi   kepemudaan di Gereja Santo Andreas berjalan efektif?

1.4   Tujuan Penelitian
a)  Mengetahui hal-hal yang bisa menjadi motivasi untuk meningkatkan komitmen kerja bagi para anggota organisasi kepemudaan di Gereja Santo Andreas.
b)  Mengetahui cara-cara pemimpin organisasi kepemudaan di Gereja Santo Andreas dalam memotivasi anggotanya agar organisasi berjalan efektif.




BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Teori Umum
                Studi komunikasi organisasi adalah studi mengenai cara orang memandang objek-objek, juga studi mengenai objek itu sendiri peranan yang diaminkan komunikasi dalam studi organisasi bergantung bagaimana organisasi tersebut dipahami (Pace, 2001).
           Suatu organisasi dapat juga didekati sebagai suatu objek studi. Sebagian orang menganggap organisasi sebagai suatu subjek yang menyenangkan dan menarik. Tujuan utamanya ialah untuk memahami organisasi dengan mendeskripsikan komunikasi organisasinya, memahami kehidupan organisasi, dan menemukan bagaimana kehidupan terwujud lewat komunikasi. Tekanannya adalah bagaimana suatu organisasi dikonstruksi dan dipelihara lewat proses komunikasi (Pace, 2001).
             Menurut proses komunikasinya, suatu organisasi didefinisikan menjadi dua yaitu definisi komunikasi organisasi fungsional dan definisi komunikasi organisasi interpretif. Pendekatan definisi komunikasi organisasi yang diambil penulis dalam makalah ini ialah pendekatan komunikasi organisasi interpretif.
Komunikasi organisasi jika dipandang dari suatu perspektif interpretif (subjektif) dianggap sebagai proses penciptaan makna atas interaksi yang merupakan organisasi. Komunikasi organisasi adalah perilaku pengorganisasian yang terjadi dan bagaimana mereka yang terlibat dalam proses itu bertransaksi dan memberi makna atas apa yang terjadi. Realitas (organisasi) adalah suatu konstruksi subjektif yang mampu lenyap saat anggota – anggotanya tidak lagi menganggapnya demikian yang lebih jelasnya bahwa komunikasi organisasi merupakan proses pembentukan makna atas interaksi yang menciptakan, memelihara, dan mengubah organisasi (Pace, 2001).
Komunikasi organisasi dari aspek subjektif dipandang sebagai proses penciptaan makna atas interaksi yang merupakan organisasi (Pace, 2001). Penekanannya terhadap proses yang terjadi dalam suatu organisasi. Pendekatan subjektif melihat dan menilai sesuatu menurut pandangan (perasaan) sendiri, tidak langsung mengenai pokok atau halnya (artikata.com). Artinya pandangan subjektif menilai dan melihat sesuatu dari sudut pandang masing-masing orang berdasarkan pendidikan, pengalaman, pengetahuan dan rasa suka/tidak suka yang mana merupakan cara-cara yang tidak terukur.

2.2 Teori Khusus
“Mengapa sebagian orang bekerja keras, sementara yang lainnya bekerja sesedikit mungkin?” jawabannya terletak pada sejauh mana orang mau mengarahkan perilaku mereka kepada suatu tujuan (Pace, 2001).
            Seperti normalnya sebuah organisasi, melalui proses penempatan pekerja, organisasi membeli waktu pegawai; sementara pekerjaan efisien membutuhkan usaha yang terarah, yang tidak dibeli, setidaknya secara tidak langsung. Dalam melakukan pekerjaan mereka, pegawai memiliki sejumlah kebijaksanaan mengenai yang mereka lakukan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Mereka dapat menggunakan banyak usaha atau menggunakan usaha minimal. Ini membuat kinerja pegawai bergantung pada apa yang kita sebut motivasi (Pace, 2001).
Motivasi, merupakan faktor – X dalam efisiensi (faktor yang menjelaskan kesedian anggota organisasi untuk mencurahkan energi yang berbeda bagi pekerjaan mereka) yang dapat dijelaskan dengan berbagai cara (Pace, 2001). Salah satunya ialah Teori harapan Vroom, teori ini menyatakan bahwa anggota organisasi akan termotivasi bila mereka percaya bahwa tindakan mereka akan menghasilkan hasil yang dinginkan, bahwa hasil mempunyai nilai positif bagi mereka, dan bahwa usaha yang mereka mau curahkan akan mencapai hasil (Pace, 2001).
Selain Teori Harapan dari Vroom, Teori Persepsi dari Pace (2001) melontarkan pertanyaan dasar mengenai “Faktor apa yang memberi andil dan berkaitan dengan efek negatif terhadap vitalitas seseorang?”. Apa yang menimbulkan kegairahan dalam bekerja dan apa yang menurunkan antusiasme seseorang dalam bekerja dan faktor apa yang cenderung meningkatkan vitalitas kerja? Teori Persepsi dari Pace berusaha menjelaskan motivasi dalam arti bagaimana anggota organisasi menafsirkan lingkungan kerja mereka (Pace, 2001). Penelitian dan pengalaman hidup dalam organisasi menunjukkan bahwa vitalitas kerja didasarkan atas empat asumsi utama yaitu sebagai berikut.
1.       seberapa baik harapan terpenuhi
2.       peluang apa yang tersedia
3.       seberapa banyak pemenuhan yang terjadi
4.       seberapa baik persepsi pegawai mengenai kinerja mereka dalam organisasi
          Penulis memilih pendekatan Teori Harapan dari Vroom dan Teori Persepsi dari Pace karena organisasi yang dipilih penulis dalam melakukan observasi ialah organisasi sosial yang membutuhkan komitmen tinggi tanpa imbalan fisik seperti gaji, promosi, kontrak dan keamanan posisi. Sehingga dengan Teori Harapan dan Teori Persepsi diharapkan mampu menjelaskan hal-hal yang bisa memotivasi anggota organisasi sosial.

2.3 Skema 



BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Penyajian Data
           Berdasarkan perolehan data dari wawancara yang telah dilakukan oleh penulis dengan tiga orang narasumber, maka penulis mendapatkan hasil yang akan disajikan pada bab ini. Penulis menyajikan hasil yang diperoleh dengan menampilkan pertanyaan dan jawaban pertanyaan tersebut. Gisela Wijaya (23) sebagai Ketua Organisasi Orang Muda Wilayah akan disingkat G, Hana Inez Nataya (25) selaku Ketua Organisasi Orang Muda Paroki akan disingkat H dan Adriani Valentina (25) selaku Ketua Organisasi Paduan Suara Cantamus Dei akan disingkat A.

3.1.1 Sajian Data
1.    Menurut Anda, apa perbedaan yang paling signifikan antara organisasi profit dengan organisasi sosial seperti organisasi kepemudaan di Gereja Santo Andreas?
G : In my opinion, a profitable organization has the point of view where everything has to lean towards its own profit. Or in other words, selfish. While a non profit organization is nothing like that. It is very selfless. There's no certain working hours or requirements needed to be fulfilled if wanting to join one.
H: Perbedaan paling signifikan dari organisasi profit dan non-profit/sosial adalah soal komitmen anggota yang terlibat didalamnya.  Karena kebanyakan organisasi profit itu memiliki kejelasan mengenai status ke-anggotaan/kepegawaian seseorang dan kebanyakan mereka memiliki aturan hukum yang jelas mengenai relasinya. Sedangkan untuk organsasi sosial, kebanyakan keterlibatan anggota terdorong oleh hati, dimana hati itu tidak ada ukuran yang jelas dan mudah berubah juga tidak mengikat.  Kadang menjadi kendala untuk meminta komitmen anggota organisasi sosial adalah tantangan tersendiri, dimana semua anggota kebanyakan memiliki urusan/kegiatan/kepentingan yang berbeda dan cara kerja juga tidak bisa diseragamkan. Komitmen juga adalah sebuah hal abstrak yang sulit untuk dinilai, tapi dalam berorganisasi komitmen itu sangat mahal harganya, sulit saat ini bisa mencari anggota organisasi sosial yang memiliki komitmen dan dedikasi tinggi untuk mengembangkan organisasi ini. Ini adalah kendala dalam mengembangkan organisasi sosial, dimana kalau anggotanya banyak yang tidak memiliki komitmen dan dedikasi yang baik maka organisasi akan sulit berkembang. Namun, memang kabar baiknya adalah di organisasi social orang bekerja dengan hati dan moral dan kebanyakan dalam suasana kekeluargaan, sehingga seharusnya tidak akan ada yang nama nya di forsir kerja terlalu keras.
A: Pertama suasana. Yang saya rasakan dalam organisasi sosial, yang dalam hal ini adalah PS Cantamus Dei, suasana kekeluargaan dan persaudaraan yang terjalin terasa begitu tulus. Tidak terlihat adanya keinginan para anggota untuk saling bersaing, untuk lebih hebat dari yang lain, apalagi ada niatan untuk menjatuhkan. Sementara hal ini besar kemungkinannya terjadi dalam sebuah organisasi profit. Para anggota / karyawan berusaha menjadi yang "ter-" dibandingkan teman2nya, mereka bersaing untuk memperebutkan jabatan, prestige, dan terutama kenaikan gaji. Mereka akan menggunakan segala macam cara, baik itu dgn meningkatkan kinerjanya (positif) atau tidak jarang terjadi kecurangan2 untuk menjatuhkan rekan kerjanya (negatif). Rasa kekeluargaan & persaudaraan juga terbentuk, tapi kebanyakan hanya di grup2 tertentu yang sudah lama bekerja bersama untuk jangka waktu yang cukup panjang.
Kedua, pelajaran dan pengalamannya. Dalam organisasi sosial memang ada jabatan, tetapi bukan berarti semua harus ikut keputusan atasan / ketua, tetapi kebanyakan organisasi sosial berisi orang2 yang mempunyai visi-misi yang sama dan mau sama-sama belajar membangun dan memajukan organisasinya. Dalam organisasi sosial, para anggotanya belajar berorganisasi secara bersama-sama, saling membantu, saling share pengalaman, dan saling mengisi satu sama lain.
Tidak jarang organisasi profit yang sifatnya individualistis. Karyawan senior ada yang tidak mau membagi pengalamanny
a dan tak jarang pula yang tidak peduli dengan rekan kerjanya. Mereka malah membiarkan rekan kerjanya itu mencari tahu sendiri apa yang harus dikerjakannya. Memang tidak semuanya begitu, tapi saya cukup banyak mendapat cerita dari teman-teman yang baru 1-2 bulan bekerja di tempat baru mendapat perlakuan seperti itu.

2. Apa senang dan sedihnya bekerja di organisasi sosial seperti organisasi kepemudaan Gereja Santo Andreas?
G : Since, as I said, there is no working hours, joining a social organization could be very bothering on holidays. But, this depends on a person's interest in the organization. If one enjoys it very much then it would be no problem at all, but sometimes when I have already been tired with college work and the real work, weekends and holidays are truly awaited. And on that very moment, the social organization demands me to work on some events. That pretty upsets me sometimes. And from that same case, I could find those activities very enjoyable when I'm stuffed with college work and that real work. It's very refreshing to meet the other members as they have been considesred as family.
H : Pada dasaranya berorganisasi adalah sebuah hal yang menyenangkan, dimana kita bisa belajar banyak hal yang tidak kita dapatkan dari pendidikan formal seperti sekolah. Dalam berorganisasi saya belajar mengenai bagaimana berbicara di depan public, bagaimana berdiskusi dengan berbagai kalangan, saya bisa mengenal banyak karakter manusia dan bagaimana mereka menghadapi masalah. Dari berorganisasi juga kita bisa mempelajari mengenai administrasi yang diperlukan dalam berorganisasi. Karena jangan bayangkan organisasi sosial itu tidak bisa apa-apa, kenyataannya ada banyak sekali hal yang harus bisa dikerjakan oleh anggota organisasi, mulai dari pembuatan surat undangan kegiatan, pembuatan proposal izin dan dana kegiatan, mengurus laporan keuangan dan laporan pertanggungjawaban acara. Kita juga dituntut untuk bisa se-adil dan se-bijaksana mungkin dalam membuat keputusan, karena organisasi sosial itu kan terdiri dari banyak orang dan kadang orang-orang itu sangat cepat sekali membuat penilaian dan yang namanya image itu perlu waktu lama untuk membangunnya, tapi cukup 1 menit untuk menghancurkannya. Jadi di organisasi sosial kita juga belajar bagaimana bertingkah laku yang baik.
Dalam semua organisasi pasti ada plus dan minus nya termasuk juga berorganisasi sosial, kadang yang paling sulit itu adalah harus mau mengorbankan waktu. Organisasi ini tidak memiliki jadwal kerja yang jelas, karena biasa memang kita itu mengadakan kegiatan saat ada ide atau dibutuhkan sehingga tidak jarang kami para anggota bisa mengadakan rapat setelah jam kerja sampai tengah malam ataupun harus kami korbankan waktu istirahat di akhir pekan untuk mempersiapkan acara atau hanya sekedar rapat membahas berbagai keperluan organisasi. Namun semua itu adalah pilihan dan saya memang memilih untuk ikut aktif dalam organisasi social dan saya menikmatinya.
A : Yang benar2 membuat saya senang berada di organisasi sosial adalah rasa kekeluargaan yang tulus yang terjalin di dalam keluarga PS Cantamus Dei. Buat saya pribadi, PS Cantamus Dei ini seperti rumah kedua saya, di mana saya bisa bebas berekspresi, bisa tertawa lepas, nangis bareng, berbagi suka duka, dan berbagi pengalaman. Saya juga belajar banyak hal, terutama berorganisasi. Sedikit sharing, saya dulu adalah orang yang tidak percaya diri, paling takut kalau harus berdiri di hadapan banyak orang. Dalam organisasi2 sekolah dulu, saya lebih banyak jadi orang di belakang layar. Setelah ikut PS Cantamus Dei dan akhirnya menjadi Ketua perlahan-lahan rasa percaya diri saya makin meningkat dan itu merupakan hal positif yang paling berarti untuk kemajuan diri saya.
Kalo ditanya sedihnya, pasti ada.. Dalam hidup kalo suka terus kan ga balance, harus ada dukanya kan
. Sedih di Cantamus yg pernah saya alami itu paling kalau lagi pas jadwal latihan yang datang sepi dan tanpa kabar. Sepinya latihan sih terkadang ada masanya, sesuai dengan tingkat kejenuhan anggotanya. Sangat wajar seseorang jenuh melakukan rutinitasnya, hal ini yang terjadi di Cantamus. Yang cukup sering terjadi biasanya di latihan berikutnya setelah tugas sepi. Tapi sedih ini harus disiasati dengan trik / langkah tepat, menjadi suatu tantangan tersendiri bagi saya bagaimana caranya mengembalikan motivasi anak-anak supaya mereka datang latihan dan selalu ada kehausan untuk terus datang dan belajar hal baru.

3. Adakah hal—hal yang memotivasi Anda dalam melakukan kegiatan organisasi sosial seperti organisasi kepemudaan Gereja St. Andreas? Jika ada, apa yang menjadi motivasi bagi Anda dalam menjalani kegiatan pada organisasi sosial? (Jika tidak, lewatkan pertanyaan ini)
G: Yes, there is. I think God is the only reason I why I join such organization. Well, at first of course my mom suggested me and I wanted to have more friends, but as time goes by and friends have come and gone by, the reason comes back to Him.
H:  Tentu ada. Awal saya berorganisasi adalah saat masih duduk di bangku kuliah, saat itu saya ikut aktif dalam sebuah organisasi himpunan mahasiswa jurusan. Itu juga bisa dikatakan sebagai organisasi sosial karena memang semua anggotanya tidak di bayar untuk menjalankan organisasi tersebut namun saya menemukan sebuah keasyikkan tersendiri menjalaninya. Saya suka untuk bisa bertemu dengan banyak teman-teman yang bersemangat untuk memajukan organisasi dan saya belajar banyak dari teman-teman itu. Selain itu juga memang sempat saya punya cita-cita untuk membuka bisnis yang bergerak di bidang event organizing jadi saya pikir ikut dalam organisasi sosial seperti di kampus atau di gereja yang sering mengadakan kegiatan yang melibatkan banyak orang adalah sebuah kesempatan belajar yang baik dan saya menjadi semakin termotivasi dalam berkegiatan. Disamping itu saat ini saya merasakan manfaatnya dalam dunia pekerjaan, dimana dalam bekerja kita tidak mungkin sendiri kita dituntut untuk bisa bekerja sama dalam tim, bisa juga memimpin dan semua itu sudah saya pelajari dan pengalaman berorganisasi membantu banyak.
A : Ada. Yang selalu menjadi motivasi saya sebenarnya sederhana. Saya hanya ingin terus menjaga dan meneruskan perjuangan kakak saya, Nita, sebagai pendiri PS Cantamus Dei. Saya tau bagaimana perjuangan dia dari awal membentuk Cantamus sehingga bisa mempunyai beberapa prestasi yg cukup membanggakan.
Cantamus sendiri berisi anak2 yang aktif di lingkungan / wilayah (teritorial) masing2, bahkan bisa dibilang mereka ini adalah "motor"-nya  teritorial masing2. Dan semakin ke belakang, semakin terlihat bahwa anak2 ini adalah anak2 yang memang mempunyai talenta dan bakat yang besar. Ini juga yang memotivasi saya untuk terus menjaga dan membawa Cantamus menjadi paduan suara yang berkembang dan berprestasi. Cantamus merupakan salah satu wadah yang tepat untuk mereka mengekspresikan dan mengembangkan talenta yang mereka punya.
"Your talent is God's gift to you. What you do with it is your gift back to God." 
4. Sebagai pimpinan dari sebuah organisasi sosial, bagaimana cara Anda dalam memberikan motivasi bagi pengurus-pengurus lainnya?
G : As a person, I'm the type of the cheerfully-too excited one. So, when we're having a meeting for sketching up a new event, I would be very gleeful in expressing my ideas, and that would influence the others. Aside from that, I think I would give usual motivational words to inject their motivation.
H : Motivasi ini adalah hal yang paling menantang dalam menjalankan sebuah organisasi sosial, karena pencapaiannya hanya seolah merupakan kepuasan batin. Tidak ada penghargaan khusus atas semua usaha kita. Untuk itu dalam sebuah organisasi sosial, tidak bisa kita terapkan yang namanya prinsip reward and punishment. Untuk memotivasi nya kalau dalam organisasi yang saya ikuti adalah dengan memberikan kepercayaan untuk mengerjakan sesuatu yang bisa membuatnya merasa bangga atas karyanya. Dengan kepercayaan untuk mengerjakan sesuatu yang mereka inginkan, biasanya mereka akan jadi lebih termotivasi dan semangat dalam menjalankan kegiatan berorganisasi, selain itu kita juga sering untuk saling mengingatkan fokus dan tujuan dari organisasi, sehingga kita mengarah pada tujuan yang sama.
A : Jujur, saya bukan tipe orang yang bs memotivasi orang lain. Yang bisa saya lakukan adalah men-support dan menyemangati mereka dari belakang. Apabila mereka punya masalah, saya mencoba untuk ada untuk mereka. Saya tipe introvert, tertutup dan tidak bisa blak-blakan, jadi untuk memotivasi pengurus2 lain saya menempuh jalan belakang dengan menjadi supporting mereka. Dan saya akan mengingatkan mereka bahwa dengan menjadi pengurus bukannya menjadi beban, tapi mereka adalah orang-orang terpilih yang dipercaya untuk menjadi penyokong memajukan organisasi ini. Di sini tidak ada siapa lebih tinggi jabatan, siapa lebih senior, karena di sini kita sama-sama belajar bareng-bareng.

3.1.2 Observasi
      Penulis melakukan wawancara dengan narasumber Gisela dan Hana di Ruangan Seksi Kepemudaan yang disingkat dengan Ruangan Siekep di gedung Wisma Siti Mariam. Ruangannya kecil kira-kira ukuran 3x5meter, terlihat adanya papan tulis, meja dan beberapa bangku. Terlihat juga perlengkapan-perlengkapan yang biasa digunakan untuk perlengkapan kegiatan orang muda Paroki. Ruangan tersebut sangat sederhana, tidak ada papan bertuliskan struktur organisasi atau apapun. Saat itu keadaan sangat sepi, tidak ada rapat atau apapun. Menurut narasumber Hana, kegiatan rapat pengurus jarang dilakukan di ruangan tersebut sehingga ruangannya terlihat berantakan. Walaupun demikian, sangat terasa keramahannya, ruangan yang sederhana tidak sedikitpun memberikan kesan yang angkuh.
     Sementara wawancara dengan narasumber Adriani, dilakukan di ruang latihan paduan suara Cantamus Dei di Ruang C di gedung Wisma Siti Mariam. Penulis mengobservasi bagaimana grup paduan suara ini berlatih, penuh dengan canda tawa, suasana kekeluargaan sangat terasa. Para anggotanya yang kira-kira berjumlah 20 orang, berpakaian santai tidak resmi, tidak pula berdandan rapi. Latihan berlangsung selama dua jam, santai namun serius.

3.2 Validasi Data
             Berdasarkan data yang telah diperoleh dari hasil wawancara yang telah dilakukan penulis sebelumnya, penulis akan melakukan teknik validasi data untuk mencocokan data-data yang ada dari tiga orang narasumber.
              Dari pertanyaan pertama, ketiganya mengatakan hal yang sama mengenai organisasi sosial yang bersifat tidak mengikat. Anggota-anggotanya berisikan orang-orang yang memang memiliki panggilan hati untuk bekerja dalam mengembangkan organisasi sosial. Suasana yang terbentuk sangat kekeluargaan, tidak ada rasa ingin saling menjatuhkan melainkan saling mendukung. Semua terbuka untuk datang sebagai keluarga (bagian dari organisasi) tanpa persyaratan dan beban apapun.
Dari pertanyaan kedua, mengenai suka dan duka bekerja di organisasi sosial seperti organisasi kepemudaan Gereja St. Andreas. Ketiga narasumber mengatakan bahwa pengaturan waktu merupakan hal tersulit dalam menjalani organisasi sosial. Sifatnya yang tidak mengikat dan merupakan kegiatan sekunder meminta komitmen yang sama tingginya dengan organisasi lain yang ikatannya jelas serta waktu luang dari para anggotanya untuk dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang anggota organisasi yang ingin memajukan organisasinya. Namun demikian, disamping kesulitan yang dialami para anggota organisasi sosial kepemudaan Gereja Santo Andreas ini, ada pula keunggulan-keunggulan dalam menjalankan organisasi sosial.
Ketiga narasumber mengatakan hal yang sama bahwa dalam menjalani organisasi sosial, suasana kekeluargaan yang sangat kental terasa membuat setiap orang di dalamnya merasa nyaman dan bisa menjadi diri sendiri. Sehingga waktu yang harus dikorbankan terasa sebanding dan bisa dinikmati dalam menjalankan kegiatan organisasi. Berkumpul untuk rapat atau menjalani kegiatan organisasi, seolah menemukan rumah kedua yang mana berisi orang-orang yang dianggap keluarga sendiri.
 Organisasi sosial juga bukan hal remeh yang mana anggotanya tidak bisa melakukan apa-apa. Turut aktif dalam organisasi sosial memberikan nilai plus tersendiri bagi anggotanya. Organisasi sosial seperti organisasi lainnya mengajak anggotanya untuk paham akan administrasi sebuah organisasi serta membina para anggotanya untuk menjadi pribadi yang percaya diri dan tahu bagaimana bersikap dalam mengahadapi berbagai orang dengan segala jenis kepribadiannya. Tentu saja hal-hal ini sangat membantu dan memberikan pelajaran bagi kehidupan sehari-hari maupun kehidupan berorganisasi di organisasi lainnya.
Beralih ke pertanyaan ketiga mengenai adanya motivasi dalam menjalani kegiatan organisasi sosial seperti organisasi kepemudaan Gereja St. Andreas, ketiga narasumber setuju bahwa dalam menjalani organisasi sosial, memang dibutuhkan adanya motivasi. Hal ini menunjukkan bahwa memang ada motivasi bagi mereka untuk menjalani organisasi sosial walaupun dari hasil wawancara terlihat jelas adanya perbedaan motivasi diantara ketiganya.
Begitu juga dengan pertanyaan keempat mengenai cara mereka memotivasi anggota lainnya dalam organisasi kepemudaan St. Andreas, ketiganya terlihat memiliki cara masing-masing dalam memotivasi orang lain di dalam organisasi tersebut. Hal ini juga sekali lagi menegaskan bahwa dalam organisasi sosial pun ada faktor motivasi untuk meningkatkan produktivitas para anggotanya walaupun yang menjadi motivasi dan bagaimana cara memotivasinya berbeda-beda sesuai dengan masing-masing orang yang akan dijelaskan lebih lanjut dalam bagian selanjutnya.

3.3 Analisis Data
Tiga narasumber yang dipilih penulis dalam melakukan pengambilan data melalui metode wawancara kurang lebih memiliki karakteristik yang sama yaitu perempuan berusia kisaran 20-25 tahun yang sudah berpenghasilan sendiri dari organisasi profit yang mereka jalani dan merupakan ketua atau pimpinan dari beberapa organisasi sosial di bidang kepemudaan pada Gereja Santo Andreas.
Dalam hal ini, organisasi kepemudaan St. Andreas dikatakan sebagai organisasi sosial karena para pengurusnya tidak dibayar untuk mengembangkan organisasi tersebut. Bekerja untuk mengembangkan organisasi sosial seperti organisasi kepemudaan St. Andreas tanpa diberi bayaran dianggap sebagai suatu pelayanan bagi umat Katolik. Berikut akan dipaparkan hasil analisis dan pembahasan oleh penulis.

3.3.1 Hal-hal yang Memotivasi Para Anggota Organisasi Kepemudaan Gereja Santo Andreas dalam Meningkatkan Komitmen Kerja
Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa motivasi seseorang dalam berkomitmen untuk menjalankan sesuatu tidak harus melulu dari sesuatu yang bersifat materiil. Dalam organisasi kepemudaan di Gereja Santo Andreas yang tidak memberi imbalan materi, para pengurus organisasi pun rupanya memiliki motivasi masing-masing yang berbeda-beda yang mendorong mereka untuk memberikan komitmen terbaik dalam kegiatan pelayanan dan turut mengembangkan organisasi yang dijalankannya.
Motivasi dalam suatu organisasi merupakan faktor – X dalam efisiensi (faktor yang menjelaskan kesedian anggota organisasi untuk mencurahkan energi yang berbeda bagi pekerjaan mereka) yang dapat dijelaskan dengan berbagai cara (Pace, 2001). Motivasi dalam melakukan atau memimpikan sesuatu setiap orang berbeda-beda, meskipun hal yang ingin dilakukan atau sesuatu yang diinginkan sama. Perbedaan alasan atau motivasi bergantung pada cara pandang seseorang dan pengaruh yang ada dalam suatu waktu tertentu (Stewart, 2005 : 9).
Hal tersebut bisa terjadi karena motivasi merupakan suatu fenomena psikologis. Seperti yang dikatakan Mungo Miller, pimpinan Affiliated Psycological Service (dalam http://e-motivasidiri.blogspot.com ) ada enam prinsip umum motivasi sebagaimana di bawah ini.
  1. Motivasi adalah proses psikologis, atau lebih tepatnya proses  emosional, bukan logis.
  2. Motivasi pada dasarnya adalah proses yang tidak kita sadari. Tindakan yang kita atau orang lain lakukan mungkin saja tampak tidak logis, namun bagi orang yang melakukannya, tindakannya tampak wajar dan masuk akal.
  3. Motivasi bersifat individual. Tingkah laku seseorang bersumber dari  dirinya sendiri.
  4. Motivasi tiap orang berbeda, begitu juga setiap individu bervariasi dari waktu ke waktu.
  5. Motivasi adalah proses sosial. Tak dapat diingkari, bahwa terpenuhi  atau tidaknya kebutuhan kita tergantung dari orang lain.
  6. Dalam tindakan sehari-hari, kita dipandu oleh kebiasaan yang  bersumber dari motivasional di masa lalu.

Dengan demikian, dari hasil wawancara yang telah dilakukan penulis, penulis menyimpulkan beberapa hal yang menjadi motivasi bagi para pelaku organisasi sosial khususnya organisasi kepemudaan di Gereja Santo Andreas yaitu sebagai berikut.
1.         Motivasi untuk melayani Tuhan
2.         Motivasi untuk mendapat teman baru (membangun network)
3.       Motivasi untuk mempertahankan perjuangan seseorang dalam mendirikan suatu organisasi dan memajukan organisasi yang telah susah payah dibangun tersebut

Sesuai dengan Teori Harapan dari Vroom, semua hal-hal diatas dipercaya oleh narasumber bahwa dengan segala tindakan mereka dalam organisasi kepemudaan Gereja Santo Andreas, mereka akan mendapatkan hasil sebagaimana yang mereka inginkan seperti mampu melayani Tuhan, mendapat teman-teman baru serta memajukan suatu organisasi. Semua pemenuhan harapan tersebut memiliki nilai positif yang berharga bagi diri narasumber sehingga pada gilirannya, hal-hal tersebut benar-benar mampu menjadi motivasi bagi narasumber dalam melakukan kegiatannya dalam berorganisasi. Dengan mencurahkan segala usaha, mereka percaya bahwa mereka akan mencapai hasil yang mereka inginkan seperti mendapat berkah dari Tuhan, mendapatkan koneksi yang bagus untuk usaha kedepannya serta mendapatkan prestasi yang baik bagi organisasinya.

3.3.2 Cara-cara Pemimpin Organisasi Kepemudaan Gereja Santo Andreas Dalam Memotivasi Anggota
Adanya cara-cara memotivasi dari para pemimpin organisasi ini sekali lagi menegaskan bahwa motivasi merupakan hal yang penting dalam kehidupan berorganisasi sehingga para pimpinan ini merasa perlu untuk memotivasi para anggota lain dalam suatu organisasi agar organisasinya dapat berjalan efektif.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, motivasi merupakan fenomena psikologis yang bisa berbeda dari satu orang ke orang lainnya. Hal ini pulalah yang terjadi pada bagaimana cara orang memotivasi orang lain. Menurut Teori Persepsi dari Pace, vitalitas kerja seseorang didasarkan pada empat asumsi utama yaitu seberapa baik harapan terpenuhi, peluang apa yang tersedia, seberapa banyak pemenuhan yang terjadi dan seberapa baik persepsi pegawai mengenai kinerja mereka dalam organisasi.
Oleh karena itu, organisasi sosial yang imbalannya bukan material, seorang pimpinan harus memotivasi anggotanya dengan cara memenuhi harapan-harapan anggotanya sesuai yang mereka inginkan. Hal ini penting karena pada gilirannya pemenuhan harapan tersebut akan meningkatkan vitalitas kerja anggota organisasi.
Berikut merupakan kesimpulan yang diambil penulis dari hasil wawancara mengenai cara-cara memotivasi anggota organisasi sosial khususnya organisasi kepemudaan Gereja Santo Andreas.
1.       Membangkitkan suasana dengan tingkah laku yang ceria
2.       Memberikan kata-kata motivasi bagi anggota lain
3.       Memberikan kepercayaan bagi anggota lain untuk melakukan sesuatu dengan caranya sendiri
4.       Memberikan waktu dan perhatian untuk saling berbagi layaknya keluarga




BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan data yang telah diperoleh, penulis menyimpulkan bahwa motivasi masing-masing orang berbeda-beda dikarenakan pengaruh faktor psikologis setiap orang yang berbeda. Berikut merupakan beberapa hal yang memotivasi para narasumber dalam meningkatkan komitmen kerja mereka dalam Organisasi Kepemudaan Gereja Santo Andreas.
1.       Motivasi untuk melayani Tuhan
2.       Motivasi untuk mendapat teman baru (membangun network)
3.       Motivasi untuk mempertahankan perjuangan seseorang dalam mendirikan suatu organisasi dan memajukan organisasi yang telah susah payah dibangun tersebut

Penulis juga menyimpulkan bahwa cara orang dalam memotivasi orang lain pun berbeda-beda dikarenakan motivasi merupakan fenomena psikologis yang mana setiap orang memiliki kriteria yang berbeda. Berikut merupakan beberapa cara yang dilakukan para narasumber sebagai pimpinan organisasi dalam memberikan motivasi terhadap anggotanya dengan tujuan meningkatkan keefektivan kerja.
1.       Membangkitkan suasana dengan tingkah laku yang ceria
2.       Memberikan kata-kata motivasi bagi anggota lain
3.       Memberikan kepercayaan bagi anggota lain untuk melakukan sesuatu dengan caranya sendiri
4.       Memberikan waktu dan perhatian untuk saling berbagi layaknya keluarga

4.2 Saran
                Motivasi itu penting bagi kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan berorganisasi. Motivasi mampu mendorong seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Sehingga pesan dari penulis ialah bahwa dalam kegiatan berorganisasi terutama organisasi sosial yang tidak memberikan imbalan berupa imbalan material, sangat penting adanya motivasi yang kuat dari setiap anggotanya agar dapat memberikan komitmen yang tinggi yang pada gilirannya akan mampu memajukan organisasi itu sendiri.
                Motivasi yang kuat terkadang tidak hanya datang dari dalam diri sendiri, namun demikian, para pimpinan organisasi pun perlu memperhatikan hal tersebut dan diharapkan mampu memberikan motivasi yang sesuai dengan yang dibutuhkan para anggotanya sehingga pada gilirannya, organisasi dapat berjalan dengan efektif.


DAFTAR PUSTAKA

Blog Motivasi Diri. (1 Oktober 2012). Teori Motivasi Prinsip Motivasi. [online] Tersedia : http://e-motivasidiri.blogspot.com/2012/10/teori-motivasi-prinsip-motivasi-dan.html
Hasibuan, Malayu S.P. Drs. 2007. Organisasi & Motivasi: Dasar Peningkatan Produktivitas.  Jogjakarta : Bumi Aksara.

Kepemudaan, Seksi. 2010. Buku Panduan Organisasi Orang Muda Katolik Paroki St. Andreas – Kedoya. Jakarta.
Pace, R. Wayne, Don F. Faules. 2001. Komunikasi Organisasi. Jakarta : PT Reamaja Rosdakarya.
Stewart, Grant. 2005. Sukses Manajemen Penjualan. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama

No comments:

Post a Comment

Post a Comment